Bayangkan kamu mengelola produk digital untuk travel—misalnya aplikasi pemesanan tiket atau tur lokal—lalu kampanye iklan ramai, order masuk, tim sibuk, tapi saldo bisnis malah menipis. Di situ biasanya masalahnya bukan “kurang jualan”, melainkan angka per unit-nya tidak sehat. Bahkan kerja sama afiliasi seperti 1xbet taruhan pun tetap tunduk pada logika yang sama: kalau biaya mendapatkan pengguna dan biaya melayani mereka lebih besar daripada laba per transaksi, maka volume hanya mempercepat kerugian. Unit economics membantu kamu melihat apakah tiap transaksi, tiap pengguna, dan tiap rupiah iklan benar-benar menghasilkan uang.
Margin & Contribution Margin: Mengukur Uang yang Benar-Benar Tersisa per Transaksi
Bagian ini fokus pada pertanyaan sederhana: setelah kamu membayar semua biaya yang langsung melekat pada transaksi, berapa rupiah yang masih tersisa untuk menutup biaya operasional (gaji, sewa, server) dan menghasilkan laba?
| Komponen | Definisi ringkas | Contoh (Startup travel) |
| Revenue (Pendapatan) | Nilai transaksi yang kamu terima | Tiket Rp1.000.000 atau fee komisi Rp80.000 |
| COGS / biaya langsung | Biaya yang muncul karena transaksi terjadi | Biaya vendor, payment gateway, komisi reseller, promo per order |
| Gross Margin | (Revenue − COGS) / Revenue | Mengukur ruang napas per transaksi |
| Contribution Margin | Revenue − biaya variabel (COGS + variabel lain) | “Uang sisa” untuk menutup biaya tetap |
| Take rate (platform) | Komisi platform / nilai transaksi | OTA: 6%–15% bergantung kategori & supplier |
Penutup bagian ini: di travel, jebakan umum ada pada biaya promo dan biaya pembayaran. Diskon Rp50.000 yang terasa “kecil” bisa memakan seluruh contribution margin jika komisi kamu hanya Rp60.000 per booking. Rumus cepat yang enak dipakai tim: Contribution Margin = Pendapatan per order − (biaya supplier + diskon + biaya pembayaran + komisi pihak ketiga). Kalau angka ini kecil atau negatif, kamu perlu ubah harga, ubah struktur promo, negosiasi komisi, atau pilih kanal penjualan lain sebelum menambah volume.
CAC & LTV: Memastikan Biaya Akuisisi Masuk Akal dan Nilai Pelanggan Tidak “Bocor”
Setelah margin per transaksi beres, baru masuk ke level pengguna. CAC (Customer Acquisition Cost) menjawab berapa biaya untuk dapat 1 pelanggan yang benar-benar “jadi”, sedangkan LTV (Lifetime Value) menghitung total nilai laba yang dibawa pelanggan selama mereka tetap aktif. Di produk IT travel, LTV sering ditentukan oleh frekuensi perjalanan, repeat order, dan retensi aplikasi.
- Cara hitung CAC (praktis dan tegas)
Ambil total biaya pemasaran periode tertentu, lalu bagi dengan jumlah pelanggan baru yang berhasil bertransaksi pada periode itu.
Rumus: CAC = Total biaya marketing / Pelanggan baru yang transaksi
Catatan lapangan: pisahkan “registrasi” dan “transaksi pertama”. Banyak funnel terlihat bagus kalau yang dihitung hanya sign-up. - Cara hitung LTV berbasis margin (lebih aman daripada berbasis omzet)
Untuk menghindari angka yang terlalu optimistis, pakai contribution margin, bukan revenue mentah.
Rumus sederhana: LTV = Contribution Margin per order × jumlah order per pelanggan per periode × lama pelanggan bertahan (periode)
Kamu bisa mulai dari 3 variabel: AOV (nilai order), margin kontribusi, dan repeat rate. - Rasio sehat yang sering dipakai tim growth
LTV : CAC idealnya minimal 3 : 1 di banyak bisnis digital. Kalau 1 : 1, kamu kerja keras hanya untuk balik modal.
Lalu cek juga payback period: berapa bulan sampai CAC kembali dari margin. Di travel, payback sering lebih lama karena repeat order musiman. - Contoh angka (travel app Indonesia)
Misal contribution margin rata-rata per booking Rp35.000. Rata-rata pelanggan booking 1,5 kali per tahun dan bertahan 2 tahun.
LTV = 35.000 × 1,5 × 2 = Rp105.000.
Kalau CAC kamu Rp120.000, maka kamu rugi walau order naik. - Cara memperbaiki LTV tanpa mengandalkan “bakar uang”
Tingkatkan repeat: bundling (hotel+aktivitas), program loyalti yang sederhana, push yang relevan (jadwal libur nasional, harga turun), layanan CS yang cepat.
Tingkatkan margin kontribusi: optimasi payment fee, negosiasi komisi, kurangi diskon yang tidak menghasilkan repeat.
Penutup bagian ini: CAC dan LTV bukan angka yang “sekali hitung lalu selesai”. Setiap perubahan kanal iklan, kebijakan diskon, atau biaya payment bisa menggeser hasil. Mulailah dari model paling sederhana berbasis margin kontribusi, lalu rapikan dengan segmentasi (pelanggan organik vs iklan, domestic vs international, pengguna iOS vs Android). Yang kamu cari bukan angka cantik, tetapi keputusan yang menahan bisnis tetap waras: jangan beli pelanggan lebih mahal daripada nilai laba yang bisa mereka hasilkan.









